height:0px; visibility:hidden; display:none

Senin, 09 Agustus 2010

CERPEN PART 1

Bunga mendekapkan kepalanya didada ara, meluapkan semua tangisnya yang terpendam sejak sore itu. Ingatannya kembali, ketika kemarin malam dia diceramahi habis-habisan oleh kedua orangtuanya, terlebih papinya.
“gue bosan ra, kapan idup gue bewarna kalo gini-gini mulu!” teriaknya sambil mendongakkan kepala menatap wajah ara yang hanyah bisa diam.
Bunga Indryanisti adalah seorang cewek 17tahun yang memiliki paras cantik, berasal dari keluara kaya raya, akan tetapi selalu merasa kesepian dan terkekang oleh kedua orangtuanya. Bunga tidak mempunyai saudara. Saat ini yang paling bisa ngerti dia hanyalah Ara, cowok yang menemukan bunga sedang menangis dibukit bidadari 5tahun lalu.
Ara Wibawaguna adalah sahabat baik Bunga sejak 5 tahun lalu, Ara anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adiknya wanita, yang nomor dua SMP dan yang bungsu SD. Ara berasal dri keluarga yang harmonis dan sederhana, sangat berbanding terbalik dengan sahabatnya Bunga. Ara mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi diJakarta.
“mungkin om sama tante pengen yang terbaek buat lo nga” ucap nya lembut sambil berpindah duduk disamping bunga yang memandang kosong kearah pemandangan dibawah sana.
“bulshit! Apanya yang baik buat gue. Yang ada gue dikekang ra.” Bentaknya dengan suara agak parau.
“lo tu anak tunggal nga, bonyok lo mungkin ga mau lo kuliah jauh-jauh”
“nonsense lah! Apa peduli mereka? Bahkan gue masuk rumah sakit sekalipun mereka gak tau ra!” teriaknya, namun kali ini suaranya sudah agak pulih kembali.
Ara tau akan hal itu. Sebulan yang lalu ketika bunga masuk rumah sakit gara¬gara malaria. Tak satupun dari orangtuanya yang mengetahui. Memang saat itu mereka sedang diluar kota. Keluarga Aralah yang merawat Bunga sampai pulih kembali. Sejak kejadian itu Bunga semakin merasa benci kepada orangtuanya, dia juga tau hal itu tidak baik.
“oke ra, gue udah mutusin untuk tetap ikut lo kuliah dijakarta, skarang temenin gue ambil uang di ATM, trus buat ATM baru” ujar Bunga sambil menarik tangan Ara menuju mobil;
Ara terdiam duduk dijok samping Bunga, dia nggak tau mesti ngelakuin apa buat mencegah perbuatan Bunga. Disatu sisi Ara nggak mau temannya bunga jadi anak durhaka karena ngelawan orang tuanya, disisi lain dia juga nggak mau pisah dari Bunga. Egois memang, tapi itulah kehidupan.
“kenape lo diam ? masih mau ngelarang gue buat ikut kuliah barengan elo?” lirik Bunga sinis dan tersenyum simpul kearah sahabat karibnya Ara.
“nggak kok, gw skarang ya terserah elo aja mah. Capek gw nasehatin elu”
“gitu dong Ara sayang ,,, sohib gw banget lo”
Srrrrrrrrr jantung Ara berasa berenti ketika Bunga memanggilnya sayang. Padahal itu bukan sekalinya bunga berkata seperti itu. Namun beberapa bulan belakangan ini, setiap Bunga ngelakuin hal yang ‘sensitif’ sedikit kepada Ara, pasti Ara langsung salah tingkah, tak jarang Bunga ketawa sendiri liatin tingkah laku Ara yang beberapa bulan terakhir ini berubah drastis.

0 komentar:

Posting Komentar

Welcome to Aulia Siltawani's Blog. Diberdayakan oleh Blogger.

© 2011 FEELING SAGITARIUS, AllRightsReserved | Designed by ScreenWritersArena

Distributed by: free blogger templates 3d free download blog templates xml | lifehacker best vpn best vpn hong kong