height:0px; visibility:hidden; display:none

Kamis, 31 Maret 2011

suratuntukayah

Tepatnya pukul 2.18 dini hari, gue masih terduduk menung menghadap selembar kertas putih dan sebuah bulpoin bewarna ungu lembut diatas meja belajar. Hari ini tepat gue empat hari gak teguran sama papa. Yap, Purnomo Dwiharjo, seorang lelaki yang bijaksana, pemarah dan egois menurut gue. Dialah papa. Papa yang ngerawat gue sendirian sepeninggalnya bunda gue 5tahun yang lalu. Tapi gue gak ngerti jalan pikiran dia. 18 tahun gue hidup sama dia, seharusnya dia bisa ngerti apa yang gue mau, apa yang gue gak suka. Dan inilah yang buat gue kadang benci sama dia. Gue kembali menatap selembar kertas dan sebuah bulpoin tersebut. 'Gue sayang sama papa' bisik gue dalam hati setengah gak sadar gue mulai merangkai kata di selembar kertas tersebut
"Papa, papa, papa, silvi tu sebenarnya sayang sama papa, ap lagi semenjak bunda meninggal. Tp kenapa papa gak pernah ngerti in perasaan silvi, silvi selalu harus ikut ap yg papa mau, gak boleh ini, hak boleh itu, silpi tu pengen dikasih kepercayaan lebih sr papa, hello pa, umur silpi udah 18 tahun. Silpi udah gak balita lg yang kmana2 mesti dianter, sipvi bs sendiri, silvi cuma mohon sm papa, beri silvi sedikit kebesab untuk ngejalanin remaja silvi pa, silvi tau papa kwatir kalo silvi keluar malam, main sm temen2 cowok silvi, ikut organisasi kampus, tapi silvi tau kok batas2 aturan keluarga kita. Silvi kadang iri sama teman2 silvi pa, silvii mohonnnn..."
Gue gak ngelanjutin tulisan gue. Perlahan setetes air jatuh diatas kertas putih itu. Gue genggam kerta putih itu kemudian gue lempar ketong sampah dengan kasar.
'Aaaarrrgggg itu surat buat papapa'

0 komentar:

Posting Komentar

Welcome to Aulia Siltawani's Blog. Diberdayakan oleh Blogger.

© 2011 FEELING SAGITARIUS, AllRightsReserved | Designed by ScreenWritersArena

Distributed by: free blogger templates 3d free download blog templates xml | lifehacker best vpn best vpn hong kong