
"pagiku cerahku matahari bersinar kugendong tas merahku dipundak, selamat pagi semua ku nantikan dirimu didepan kelasku menantikan kami, guru ku tersayang guruku tercinta tanpamu apa jadinya aku, tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal guruku terimakasihku, nyatanya diriku kadang buatmu marah namun segala maaf kau berikan"
Kapan kamu terakhir mengucapkan terimakasih kepada gurumu ? kemarin ? satu minggu lalu ? satu bulan lalu ? satu tahun lalu ? atau belum pernah sama sekali sejak kamu meninggalkan bangku sekolah menengah atas ? Apa sebenarnya Guru dimata kamu ? dulu beberapa tahun yang lalu dan pastinya sebelum aku mengerti betapa mulianya arti Guru, terutama Guru Sekolah Dasar, aku sangat tidak menyukai Guru, menurutku mereka hanya bisa menyuruh, menyuruh dan menyuruh tanpa mengerti mauku apa.Iya! aku anak seorang Guru Sekalah Dasar. Ibu sudah mengabdikan dirinya menjadi Guru sejak beliau tamat Sekolah Pendidikan Guru sekitar tahun80-an. Dari aku SD sampai SMA, aku tidak pernah bangga dengan beliau. Bagiku beliau hanyalah seorang Guru Sekolah Dasar biasa yang mengajar disekolah yang sangat biasa pula. Sudah berpuluhan kali aku memintanya untuk pindah mengajar disekolah yang lebih layak disebut Sekolah Dasar namun tetap sama dengan jawaban sebelum-sebelumnya “Tidak ul, disini ibu memulai disini pula ibu harus mengakhiri”. Aku tidak mengerti apa yang dikatakan beliau. Intinya dulu aku tidak pernah bangga dengan prpfesinya sebagai sorang guru. Aku tidak pernah menceritakan tentang profesi beliau kepada teman-temanku ketika kami sedang berkumpul untuk sekedar bercerita pekerjaan orang tua. Sampai akhirnya aku resmi terdaftar sebagai mahasiswi Fakultas Keguruan disalah satu Universitas Negeri dikotaku. Dan ini juga bukan mauku. Tapi permintaan Ibu-Guru ku. Beliau memintaku meneruskan profesi beliau menjadi seorang Guru yang bisa mengemban tanggung jawab. Bukan hanya menjadi Guru yang hanya bisa mengajar tapi tidak bisa menyampaikan ilmu kepada anak didiknya. Suatu hari aku diajak ibu ke Sekolah tempat dia mengajar. Sekolah yang selalu aku katakan tidak layak disebut Sekolah tempat anak-anak belajar. Ibu memintaku untuk ikut masuk kedalam kelasnya dan menyuruhku duduk dikursi tepat disudut kelas. Sungguh pada detik itu aku merasa tidak nyaman berada ditengah-tengah anak SD. Walaupun jumlahnya hanya 24 orang tapi kelas itu seperti berisi 50 orang siswa. Aku diam memperhatikan beliau mengajar, aku pandang mimik wajahnya, intonasi suaranya, gerak tubuhnya, cara beliau menyentuh muridnya, cara beliau menulis dengan kabur putih dipapan tulis hitam, cara beliau berjalan menguasai kelas. Seingatku waktu itu aku sempat meneteskan sedikit air mata. Ketika melihat beliau dengan sabarnya menghadapi salah satu murid yang hiperaktif. Beliau menuntunnya untuk mengerjakan tugas tanpa membuat anak-anak yang lain merasa ditinggalkan. Andai aku diposisinya waktu itu, entah apa yang akan aku lakukan menghadapi situasi kelas tersebut. Tetapi beliau mampu menanganinya. Betapa hebatnya beliau. Ibuku-Guru bagi murid-muridnya. Sekarang aku mengerti mengapa beliau tidak pernah mau pindah mengajar ketika aku memintanya. 25 Tahun hidupnya dia abdikan untuk mengajar. Mengajar disekolah yang sama. Oh tuhan. Dia ibuku ? dia Guru ? Seorang yang sesungguhnya harus aku banggakan disetiap cerita ku tentangnya.Guru Sekolah Dasar adalah Pahlawan Tanpa Jasa terbesar dalam perjalanan pendidikanku. Ibuku Pahlawanku. Guruku Pahlawanku. Terimakasih Guruku kuucapkan atas Jasamu.

0 komentar:
Posting Komentar