height:0px; visibility:hidden; display:none

Jumat, 04 Januari 2013

seperti awan malam, hitam, gelap..


Kampus, sekitar pukul 10 pagi.
Pagi ke dua di tahun 2013. Sepeninggal Dita dari rumah hari itu. Kita tidak bertemu untuk waktu lama. Sekitar satu minggu. Libur tahun baru membuat aku dan dita terpisah. Dia pulang kerumah orang tuanya untuk merayakan tahun baru bersama dengan keluarganya, dia sempat mengajakku ikut serta, tapi dengan cepat aku menolak dengan alasan aku akan merayakan tahun baru juga pulang kerumah bersama orang tua ku. Tapi itu bohong, entah untuk berapa kalinya aku berbohong soal itu dengannya. Maafkan aku sahabat.
Tahun baru pertama diangka sial 13 kelabu. Tepat pergantian tahun aku hanya menatap kearah jendela melihat taburan kembang api dan ledakan mercon hilir berganti. Aku bukannya tidak ingin merayakan tahun baru masehi kali ini. tapi mungkin untuk tahun-tahun selanjutnya aku tidak akan merayakan tahun baru seperti tahun-tahun sebelumnya. Keluarga-kembang api-halaman belakang-gitar-canda-tawa-kebahagiaan dahulu yang pernah aku punya sebelum kejadian-kejadian itu memenuhi sebagian dari memori otakku.
“milaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!” dari kejahuan tampak nina berlari kecil kearahku berteriak sambil melambaikan tangannya. Tawanya indah dan ceria, selalu setiap hari. Seperti aku tapi dulu. “udah lama nggak lihat kamu rasanya, gimana tahun baru ? asik dong ? nih ada oleh-oleh dari bundaku buat kamu katanya” Dita menyodorkan kantong berukuran sedang kearahku.
Ku intip sedikit isi kantong itu, rasanya itu makanan. “asik dong dit, kamu gimana ? kak dimas juga udah balik kesini bareng kamu ya ? bunda kamu emang baik dit. Sampain trimakasih aku sama bunda ya” jawabku dengan senyum kecil dipinggir bibir.
“iya sama-sama. Dasar milla, bukan temennya yang ditanyain kabar malah nanyaain kak Dimas. Iya udah pulang bareng aku”
“heheh Dita bisa aja. Eh katanya dosen nggak masuk. Pergi yok dit”
“serius mil ? yok yok kita jalan aja, udah lama rasanya nggak hangout ya mil kita” dita mengambil handphone dari saku celannya kemudian menekan tombol satu persatu. “hallo kak dimas, dita nggak kuliah hari ini. mau pergi aja sama mila ya kak”-“ikut ? hmm iya udah boleh, tapi kakak jemput kita.
“kak dimas ikut dit ?” aku sedikit senyum lebar mendengar nama kak dimas disebut-sebut dita.
“seneng ya mil kamu, iya. Lumayan sopirin kita hahah”
Untuk sekarang-sekarang ini nama kak Dimas emang sukses buat aku senyum-senyum sendiri, perhatian kak Dimas sama aku nggak bisa di deskripsikan sama kata-kata. Jauh sebelum aku tahu kak Dimas sudah punya pacar, seingat aku ketika ospek mahasiswa baru. Ketika itu aku adalah seorang mahasiswa dan dia kakak pendampingku kala itu. Baik dan pintar. Siapa yang tidak suka sama dia, termasuk aku. Tapi waktu itu aku masih tidak memperdulikan rasa yang ada. Mungkin masih seperti awan dengan bintang dahulu, tidak seperti sekarang kelabu, gelap, hitam. 

0 komentar:

Posting Komentar

Welcome to Aulia Siltawani's Blog. Diberdayakan oleh Blogger.

© 2011 FEELING SAGITARIUS, AllRightsReserved | Designed by ScreenWritersArena

Distributed by: free blogger templates 3d free download blog templates xml | lifehacker best vpn best vpn hong kong