Kampus, sekitar pukul 10 pagi.
Pagi ke dua di tahun
2013. Sepeninggal Dita dari rumah hari itu. Kita tidak bertemu untuk waktu
lama. Sekitar satu minggu. Libur tahun baru membuat aku dan dita terpisah. Dia pulang
kerumah orang tuanya untuk merayakan tahun baru bersama dengan keluarganya, dia
sempat mengajakku ikut serta, tapi dengan cepat aku menolak dengan alasan aku
akan merayakan tahun baru juga pulang kerumah bersama orang tua ku. Tapi itu
bohong, entah untuk berapa kalinya aku berbohong soal itu dengannya. Maafkan aku
sahabat.
Tahun baru pertama
diangka sial 13 kelabu. Tepat pergantian tahun aku hanya menatap kearah jendela
melihat taburan kembang api dan ledakan mercon hilir berganti. Aku bukannya
tidak ingin merayakan tahun baru masehi kali ini. tapi mungkin untuk
tahun-tahun selanjutnya aku tidak akan merayakan tahun baru seperti tahun-tahun
sebelumnya. Keluarga-kembang api-halaman belakang-gitar-canda-tawa-kebahagiaan
dahulu yang pernah aku punya sebelum kejadian-kejadian itu memenuhi sebagian
dari memori otakku.
“milaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!”
dari kejahuan tampak nina berlari kecil kearahku berteriak sambil melambaikan
tangannya. Tawanya indah dan ceria, selalu setiap hari. Seperti aku tapi dulu. “udah
lama nggak lihat kamu rasanya, gimana tahun baru ? asik dong ? nih ada
oleh-oleh dari bundaku buat kamu katanya” Dita menyodorkan kantong berukuran
sedang kearahku.
Ku intip sedikit isi
kantong itu, rasanya itu makanan. “asik dong dit, kamu gimana ? kak dimas juga
udah balik kesini bareng kamu ya ? bunda kamu emang baik dit. Sampain trimakasih
aku sama bunda ya” jawabku dengan senyum kecil dipinggir bibir.
“iya sama-sama. Dasar milla,
bukan temennya yang ditanyain kabar malah nanyaain kak Dimas. Iya udah pulang
bareng aku”
“heheh Dita bisa aja. Eh
katanya dosen nggak masuk. Pergi yok dit”
“serius mil ? yok yok
kita jalan aja, udah lama rasanya nggak hangout ya mil kita” dita mengambil handphone
dari saku celannya kemudian menekan tombol satu persatu. “hallo kak dimas, dita
nggak kuliah hari ini. mau pergi aja sama mila ya kak”-“ikut ? hmm iya udah
boleh, tapi kakak jemput kita.
“kak dimas ikut dit ?”
aku sedikit senyum lebar mendengar nama kak dimas disebut-sebut dita.
“seneng ya mil kamu,
iya. Lumayan sopirin kita hahah”
Untuk sekarang-sekarang
ini nama kak Dimas emang sukses buat aku senyum-senyum sendiri, perhatian kak
Dimas sama aku nggak bisa di deskripsikan sama kata-kata. Jauh sebelum aku tahu
kak Dimas sudah punya pacar, seingat aku ketika ospek mahasiswa baru. Ketika itu
aku adalah seorang mahasiswa dan dia kakak pendampingku kala itu. Baik dan
pintar. Siapa yang tidak suka sama dia, termasuk aku. Tapi waktu itu aku masih
tidak memperdulikan rasa yang ada. Mungkin masih seperti awan dengan bintang
dahulu, tidak seperti sekarang kelabu, gelap, hitam.

0 komentar:
Posting Komentar