Kamar Milla, sekitar pukul 10 malam
Malam ini sedikir
berbeda dari malam-malam sebelumnya di beberapa bulan terakhir ini. Aku sedikit
menuangkan perasaan yang berada di sini (hati) didalam sebuah kertas origami
berwarna hitam pekat. Hanya tulisan pendek yang kutulis malam ini.
Untuk 2012 yang sebentar lagi berakhir dan tidak pernah kembali...Untuk 2012 yang indah dengan setiap detiknya, yang membuat garis senyumku setiap hari terukir indah diwajah....Untuk 2012 yang banyak menjatuhkan butiran air mata dari balik kelopak mataku yang bulat hingga drastis berubah bak sebuah danau, cekung menghitam...Aku meminta kepada Tuhan dengan segenap jiwa raga, dengan setiap nafas yang ada untuk mengindahkan setiap detik hidupku pada angka sial 13, 2013...Kepada Tuhan aku meminta semuanya berjalan seimbang searah sesuai garis waktu..Aku percayaa, sedih sama bahagia datangnya satu paket,,Kayak ayah, ibu, kebahagian, duluuu sebelum sekarang.
Aku mengulang tulisan ku
di Origami hitam tersebut, sesekali aku menaikan alis mata sebelah kiri.
“shitt,
klasik!” geramku sambil meremas pulpen digenggaman tangan kananku.
Aku menuliskan tanggal
hari ini dan namaku diujung bawah origami tersebut, sebelum benar-benar
melipatnya menjadi bentuk hati dan kemudian ku masukkan kedalam kotak bekas jam
tangan. Aku kembali menatap nanar tulisan tanganku tadi, merasakan ada yang
aneh dari setiap kalimat yang aku ucapkan. Ah entahlah, aku bingung
mengaplikasikan kehidupanku beberapa bulan terakhir ini. Aku seperti kehilangan
jati diri, aku bukan Milla yang dulu, bukan Milla seorang yang hangat, dan
mudah mengeluarkan garis senym terindahnya. Itu sudah hilang, hilang bersama
gelapnya hari itu.
Tiba-tiba ponselku
berbunyi, ku tatap layar dan kumenemukan nama ‘Dita’, buru-buru ku angkat
panggilan tersebut.
“ya ada apa ?” jawabku
senakknya.
“yee biasa aja kali, aku
mau kerumah ni, mau dibawakin apa ?” suara renyah sahabatku ini lah yang
beberapa bulan terakhir selalu membuatku sedikit nyaman dan tenang. Sikapnya yang
dewasa dari pada aku membuat aku nyaman berada didekatnya, dialah satu-satunya
orang ku percaya saat ini. Dita sahabatku.
“hehe mie celor didepan
rumah sakit itu aja ye, pedas sama nggak pake lama”
“lapar ? oke, tunggu ya
mil”
“oke”
Ku
letakkan kembali ponselku disamping tumpukan kertas origami ksosong, dan yang
telah bertuliskan tadi kuselesaikan hingga akhirnya berbentuk hati. Buru-buru
kumasukan kedalam kotak seblum akhirnya Dita datang dengan sebungkus Mie Celor
kesukaan aku dan keluargaku, dulu.

0 komentar:
Posting Komentar