Bagian 1....
Tok tok tok......!!!!!!
Tapi ketokan kali ini tidak
seperti biasanya, siapapun yang mendengarnya pasti langsung akan terlompat dari
kasur dan seketika mimpi indah pun hilang. Tapi yah itu yang membedakan aku
dari banyak orang lain. Mau sekeras apapun gedoran dipintu kamarku, aku, Gemini
anak bapak Damar dan Ibu Heni tidak akan rela melepas mimpinya kecuali bagian
tubuhnya disentuh. Dan kebetulan pagi ini pintu kamarku terkunci jadi seisi
rumah tidak ada yang bisa masuk kekamar kecuali melewati jendela. Mili!!! Abang
ku tersayang yang rela mati-matian manjat tangga demi mencapai jendela kamar
dan dengan senaknya mengimpit tubuhku dengan tubuhnya yang dibilang besar nggak
juga, tapi dibilang kecil juga nggak. Lumayanlah ngebuat tubuhku ini
patah-patah tulangnya (hhehe becanda).
“woii
bukannya kamu hari ini disuruh kesekolah ya ge, kan ada pengumuman persiapan
buat MOS gitu” dengan enteng Mili berkata tanpa dosa setelah mengimpit tubuhku.
Aku yang masih merasa kesakitan
tiba-tiba terkejut dengan perkataan Mili dan secepat kilat terduduk sambil
mengucel-ngucel mata.
“ah
iyaaaa. Aku lupa, untung kamu ngingetin aku” kemudian aku berjalan kekamar mandi
bersiap-siap untuk ke sekolah baruku karena ada pengumungan persiapan untuk
MOS.
Hari minggu loh ini, seharusnya
aku bisa bangun lebih siang dari hari biasanya makanya aku kunci pintu kamar
supaya ayah ibu dan Mili nggak bisa bangunin aku pagi-pagi buta hanya untuk
berjalan keliling komplek. Aku tidak suka hal-hal seperti itu. Itu akan membuat
kaki-kaki terasa sakit ketika malam dan membuatku susah tidur.
“ngapain
masih disini mil ?” tanyaku pada Mili yang masih terduduk rapi dipinggiran
kasurku.
“kenapa
pake baju bebas gitu ge ?”
“lah
emang pake baju apa ?”
“PAKEE
SERAGAM SMP KAMU LAH GE, GIMANA SIH!!” kata Mili sambil teriak tepat
ditelingaku. “cepat ganti sana, trus kebawah sarapan, ayah sama ibuk udah nunggu
buat sarapan” lanjut Mili.
“yeee
biasa aja kaleee. eh emang kamu dulu gitu ya mil pake seragam ?” kata ku ragu.
“yeee...”
seloyoran sambil pergi kearah pintu, bukan lewat jendela.
Dirumah ini ayah ibu dan Mili
memang suka menjawab pertanyaan serius dengan kata-kata yang sangat singkat. Seperti
tadi “Ya” dan aku pembenci kata-kata itu.
***
Sudah kebiasaan setiap pagi kita
sekeluarga sarapan seperti ini, khusus sarapan pagi aja. Kalo selepas sarapan
pagi sih bebas, kadang makan diruang keluarga juga nggak apa-apa.
Ayah, tidak akan beranjak dari
duduknya atau bahkan berangkat kekantor jika sarapannya tidak ada Kopi Hitam
dan beberapa Pisang Goreng. Setiap hari ? iya setiap hari. Kamu jangan
membayangkan betapa bosannya aku melihat hal itu. Tapi aku sayang beliau.
Ibu, tidak pernah lupa tugasnya
menyiapkan sarpan untuk kami sekeluarga. Kadang rela tidak sarapan sebelum kami
semua selesai. Betapa beruntungnya bukan aku memiliki ibu seperti beliau.
Mili, nih anak turunan ibuk
banget. Nasi dan lauk sisa semalam aja dimakan.
Aku, pokoknya harus ada nasi buat
sarapan.
***
Sekolah baru...
Minggu pagi dengan seragam SMP,
aku “GE” menyatakan terkutuklah bagi senior-senior yang memerintahkan memakai
seragam smp ke sekolah jam 7 pagi.
“heh
kamu...”
“manggil
aku mas ?”
Sepintas kulihat kiri dan kanan,
memang hanyak aku sendiri disini. Tapi kenapa dia panggil aku, kenal juga
nggak.
“kamu
buta ? kan Cuma kamu sendiri disini. Eh satu lagi, aku bukan mas-mas bakso”
katanya dengan gaya cool sambil tangan kanan dikantong jeansnya.
“oh
iya sory, ada apa ya ?” kataku cuek.
“kamu
anak baru sudah buat masalah, siapa suruh kamu pakai seragam SMP kesini?”
“bukannya
disuruh pake seragam SMP ya ? jangan ketus-ketus dong. Biasa aja” aku mulai
kesal dengan gayanya yang sok kepemimpinan itu. Siapa sih dia.. huh
“ikut
saya!” kemudian dia menarik tanganku kearah mading sekolah yang tidak jauh dari
arah kami berdiri tadi. “punya mata kan dek! Baca ni..!” dengan nada membentak.
Astagaa Miliiii!!! Tunggu aku
dirumah, kepalamu akan kuputar 360 derajat. Beraninya kamu menipu adikmu.
“sudah
dibaca, dek..?” katanya sambil mendekatkan wajahnya kearahku.
Refleks, aku yang sedang memegang
botol minumku, yang awalnya aku ingin minum sebelum bertemu cowok ini tersiram
kearah bajunya. Oke maafkan aku, aku kaget melihat wajahnya yang mendekat
kearahku.
“maaf..!”
sambil berusaha membersihkan bajunya dengan telapak tanganku yang tidak
memegang botol minum.
“bargaaaaa,
acara mau dimulai” dari kejauhan terdengar suara teriakan menyebut nama Barga,
mungkin nama cowok ini Barga.
“cepat
masuk kebarisan, ingat urusan kita belum selesai”
AS & ZS

0 komentar:
Posting Komentar